Kamis, 06 Januari 2011

Merindukan Sosok Umar Bin Abdul Aziz

Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasehat. Salah satu ulama tersebut, Hasan Al Bashri, menasehatinya seperti ini : Anggaplah rakyat seperti ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau menyayangi anakmu "Nasehat ini diingat dan dijalankan dengan baik oleh Umar Bin Abdul Aziz”.

Umar Bin Abdul khalifah yang kita kenal dengan kezuhudannya, yang terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di Baitul Mal yang kala itu sedang merebak bau harum kesturi di sana. Seorang petugas Baitul Mal terheran-heran dan bertanya, " Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?" Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya dengan menghirup harum kesturi ini " Ialah khalifah yang dijuluki oleh para ulama sebagai Khulafaur Rasyidin ke-5, saking akhlaknya yang mendekati para Khulafaur Rasyidin yang empat itu.

Sekarang? Susah rasanya berharap, hanya sekedar berharap pemimpin-pemimpin kita mau meniru Khalifah Umar Bin Abdul Aziz apalagi kita selalu mengingat dan menjalankan nasehat dari Hasan Al Bashri. Kita, rakyat, seperti kata Goenawan Muhamad, bahkan cuma dianggap ada 5 tahun sekali, ketika masa pemilu tiba dan masa kampanye mulai digelar. Kita, rakyat, cuma diingat, diperhatikan, didatangi, dan didengarkan 5 tahun sekali. Kita, rakyat, cuma dianggap sebagai ayah, saudara, dan anak 5 tahun sekali.

Dan jika masa pemilu lewat, lewat pulalah masa-masa 'bulan madu' antara rakyat dan pemimpin itu. Lupalah para pemimpin kita dengan janji-janjinya, dengan program-programnya, Kalau orang Jawa bilang, " Masih untung bisa ingat rakyat 5 tahun sekali, daripada tidak sama sekali " Ya, memang masih untung bisa ingat rakyat 5 tahun sekali, tapi sayangnya dalam 'masa ingat rakyat' yang cuma sekali-kalinya dalam 5 tahun itu pun, masih saja pemimpin-pemimpin kita tega merendahkan dan menghina harga diri rakyatnya.

Suara kita, hak pilih kita yang tak ternilai itu, konon dalam demokrasi kedudukannya setara dengan suara Tuhan, tega mereka beli dan hargai hanya dengan beberapa ratus atau bahkan puluh ribu rupiah. Dan kita, yang lebih sering berpikir pendek dan hanya bisa berpikir besok makan apa dengan senang hati menggadaikan masa depan negeri ini yang sebenarnya adalah juga masa depan kita bersama di tangan pemimpin-pemimpin yang sebenarnya tak lebih dari sekedar tukang sogok, demi uang yang tak seberapa itu.

Sungguh luar biasa negeri ini. Yang tak pernah berkaca dari kesalahan-kesalahan masa lalu hingga selalu terperosok ke dalam lubang kedzaliman, yang tak pernah mengambil teladan dari sikap orang-orang besar di masa lalu, yang selalu salah memilih pemimpin-pemimpinnya. Sungguh luar biasa negeri ini yang hanya untuk menangani anak-anaknya yang protes dengan kebijakan-kebijakan aneh yang kerap diambil ibunya, merasa perlu untuk menurunkan puluhan bahkan ratusan aparat bersenjata pentungan dan peluru karet, menjewer anak-anak nakal itu dengan mendoakan mereka bahkan kalau perlu menjebloskan mereka ke penjara dengan tuduhan ini dan itu. Sungguh luar biasa negeri ini, yang ketika rakyatnya di daerah sampai harus mengorbankan nyawa demi kehormatan dan harga diri partainya, pemimpinnya di atas malah sibuk menjual aset-aset negara.

Sungguh, kita hidup di sebuah negeri yang luar biasa. Sebuah negeri yang menyamakan kejujuran dengan barang antik yang hanya pantas ditaruh di museum. Hanya bisa dilihat, dibayangkan, dan dikenang, meski kadang bisa disentuh. Ketika seorang anggota dewan mengembalikan uang suap yang ratusan juta jumlahnya, ketika ada yang menolak dana kadeudeuh ia malah dianggap sebagai pengkhianat atau pencari simpati rakyat.

Sebagian lain menganggapnya bodoh dan munafik. Ketika ada anggota dewan yang mengaku pada wartawan bahwa ia disodori amplop yang tak jelas maksud pemberiannya dan ia mengembalikannya, ia malah dimusuhi rekan-rekannya, dituduh mengumbar aib partai atau fraksi, dan ujung-ujungnya di-recall atau dipecat. Dan sekarang, masa ingat rakyat itu hampir tiba. Saksikan saja, betapa sebentar lagi (atau mungkin sudah?) suara kita akan didengar, betapa pertanyaan-pertanyaan kita akan dijawab meski tak jelas, dan betapa-betapa yang lain. Dan sekarang, ketika harus memilih wakil kita yang akan duduk di dewan, ketika presiden dan wakil presiden akan dipilih langsung oleh rakyat, sosok Khalifah Umar Bin Abdul Aziz menjadi sangat kita rindukan untuk menjadi sosok yang akan kita pilih. Sebuah kerinduan yang mungkin akan ditertawakan oleh sebagian orang, sebagai buah dari rasa pesimis yang sebenarnya wajar karena dikecewakan terus-menerus, kekecewaan rakyat kecil kepada pemimpinnya.

Sebuah kerinduan yang harus kita yakini akan dijawab oleh Allah. Pasti ada, walau segelintir, orang-orang yang dianggap aneh, bodoh, munafik, pengkhianat, atau apalah karena keteguhan mereka memegang kebenaran di antara berbagai kebobrokan yang menyergap tanpa ampun, menyusup di segala lini kehidupan.

Pasti ada, segelintir orang yang ingin dan berusaha meneladani kezuhudan, kehati-hatian, dan keberpihakan pada rakyat kecil seperti yang telah dicontohkan oleh Umar Bin Abdul Aziz. Ya, kita semua rakyat yang bisa memupus kerinduan ini. Kitalah yang akan memilih Umar-Umar baru sebagai wakil kita, sebagai pemimpin kita. Pada akhirnya, kita jualah yang menentukan masa depan bangsa.

Jumat, 17 Desember 2010

Mengapa harus sebelah mata ???

apa yang anda pikirkan ketika melihat judul di atas ?? apakah tentang seseorang yang sedang mengalami sakit di bagian mata sehingga ia hanya bisa melihat hanya dengan sebelah matanya saja ???? kalo ternyata yang anda pikirkan adalah apa yang telah saya katakan tadi, ternyata anda termasuk orang yang pintar... (lho?!!!!)
tentu saja tidak teman...
di sini saya hanya ingin membahas betapa sebegitu sempitnya seseorang atau sekelompok masyarakat dalam menilai sesuatu tanpa mau membuka pikiran mereka lebar-lebar tentang apa sisi lain yang dapat mereka tangkap dari hal mereka nilai...
ada banyak sekali contoh tentang sempitnya cara pikir masyarakat dalam menilai suatu hal. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya, carilah yang ada disekitar kita, sebagai contoh saya... ^^
saya tengah melanjutkan study di sebuah universitas di kota saya. Bisa dikatakan, ada banyak sekali hambatan bahkan cobaan mental yang saya terima ketika saya memutuskan untuk melanjutkan study ke universitas tersebut. Bahkan sampai detik ini, dan bisa saja sampai semester akhir nanti...
banyak orang bilang di universitasku ada banyak sekali “ayam kampus”, bahkan bisa di bilang masyarakat sering menganggap rata pandangan mereka terhadap seluruh wanita yang tengah study di universitasku. Menurut saya itu adalah salah satu bukti bagaimana sempitnya pemikiran masyarakat dalam menilai suatu hal. Mungkin di pikiran mereka hanya universitas atau perguruan tinggi yang ber-basic islam lah yang bersih dari yang namanya “ayam kampus”. Tanpa mereka sadari dan tanpa mereka mau melihat bagaimana bebasnya pergaulan anak muda jaman sekarang. Bukan hanya para mahasiswa, tetapi siswa SMA bahkan SMP pun tidak sedikit yang sudah melakukan hubungan sex diluar nikah, dan tidak salah juga jika kita menganggap mereka sebagai “ayam sekolah” (‘ayam’ yang ada di kampus namanya “ayam kampus”, sedangkan ‘ayam’ yang ada di sekolah namanya “ayam sekolah”)
*gag penting banget*
kembali ke contoh...
bukan hanya itu saja yang sering masuk ke telingaku tentang bagaimana hujatan-hujatan masyarakat tentang universitasku.
Banyak masyarakat menganggap universitas saya adalah universitas murahan (bahasa belandanya ‘ecek-ecek’, hahaa...). masyarakat sering sekali lebih ‘melebih-lebihkan’ seseorang yang tengah kuliah di luar kota di manapun universitasnya entah itu universitas yang sudah mempunyai nama atau belum. Mereka hanya berfikir bahwa universitas di luar kota lebih bagus kualitasnya di bandingkan universitas di kotanya sendiri, maklum lah.... di luar kota ada banyak sekali universitas dari pada di kota kelahiran saya.
Padahal, tidak ada yang salah, perihal dimanapun kita melanjutkan study, entah itu di luar kota ataupun di kota kelahiran sendiri. Mata kuliah yang di ajarkan sama. Baik buruknya menurut saya bukan terletak di mana kita melanjutkan study, tetapi pada mahasiswanya. Ketika ada seorang mahasiswa tengah melanjutkan study di universitas yang mereka anggep murahan tetapi mahasiswa tersebut menjalani apa yang menjadi pilihannya dengann niat yang kuat, tidak akan ‘tidak mungkin’ kualitas yang ia peroleh sama dengan kualitas mahasiswa lulusan universitas di luar kota...
Contoh terakhir (atau lebih tepatnya ‘beban mental terakhir’) yang saya dapat ketika saya putuskan untuk melanjutkan study ke universitas di kota kelahiran saya adalah ada banyak sekali orang bahkan hampir semua masyarakat mengaggap mahasiswa yang tengah study di sekolah tinggi ilmu kesehatan (entah itu perawat ataupun bidan) lebih ‘baik’ dibandingkan seorang mahasiswa yang tengah study di fakultas keguruan ataupun fakultas-fakultas lain.
Sedikit cerita... satu atau tahun yang lalu ada seorang teman yang bertanya kepada saya dimana saya melanjutkan study, ketika saya menjawab di universitas ******sensor******, dia malah berkomentar “mengapa saya melanjutkan study di tempat itu?? kuliah tu di kesehatan, perawat atau bidan”...
Antara sakit hati dan ‘gemes’ mendengar komentar dia tentang saya. Yang ada dipikiran saya saat itu “kenapa dia berbicara seperti itu tanpa melihat kondisi dia yang hanya bekerja sebagai burh jahit? Kenapa dia tidak berfikiran bahwa ‘dia bisa melanjutkan kuliah, sedangkan saya tidak, tidak seharusnya saya berbicara seperti itu kepada seseorang yang nasib nya lebih beruntung dari pada saya’.
Memang terasa begitu aneh ketika masyarakat tidak mau menyadari bahwa kesuksesan dan rejeki sudah ada yang mengatur. Tanpa mereka sadari bahwa setiap orang akan sukses, tergantung waktu, apakah 5, 10, ataupun 15 tahun lagi.
Semua yang telah saya tulis (lebih tepatkah curahan isi hati saya???? ) adalah sebagian kecil contoh tentang bagaimana sempitnya pemikiran mereka dalam menilai suatu hal. Bagaimana dengan anda??
Apakah anda juga termasuk dalam masyarakat yang berpemikiran sempit??